Selasa, 10 April 2012

terimah kasih telah menjadikanku kuat.

Artikel Bebas 27 September 2011 - 15:26 Terimakasih, telah menjadikanku kuat Baru saja kemarin Aku masih bisa merasakannya Menikmati perasaan yang sangat indah Membingkai setiap detik yang berjalan bersamamu Mengurai setiap kenangan yang terkumpul di memory internal-ku Hingga datang hari yang kunantikan. Hari dimana akan kukatakan segalanya. Segala tentang perasaanku Dan berusaha akan menjadi lebih baik. Hari yang ingin sekali kubagi denganmu. Membungkus semua suka duka yang pernah kita lewati. Hari yang sengaja kupersiapkan dengan matang. Mulai dari beragam pekerjaan yang jauh-jauh hari sudah kurampungkan. Baju-baju yang sudah kucuci dan akhirnya kusetrika, hingga tertata apik di almari agar tak ada lagi beban di hari itu. Foto-foto kenangan yang sudah kucetak, Hingga rencana untuk mengenakan baju yang memang belum pernah kupakai sekalipun. Karena memang ini salah satu caraku menyambut hari bersejarah kita di malam itu. Malam yang seharusnya menjadi indah setelah diguyur hujan sore hari. Malam yang seharusnya semakin menguatkan perasaan saya. … Dan inilah hidup. Yang tak selalu berpihak pada lakonnya. Dunia yang sedang tidak setuju denganku. Bunga itu mati layu. Kenyataan yang tak sejalan dengan harapan kini kuterima Kalimat itu cukup untuk membutakanku Membuatku sulit bernafas Membuatku semakin brutal. Tak pernah terlintas dari angan-anganku. Segalanya terlempar jauh… Sempat tertunduk kepala ini. Terasa sangat berat sungguh. … Malam kelabu itu memang belum sepenuhnya membangunkanku. Masih terasa seperti mimpi, yang segalanya akan baik-baik saja setelah aku bangun nanti. Hingga. Haripun berganti. Ketika kepala ini sudah bisa mendongak menantang. Satu persatu hikmah yang kuharapkan datang, mengajariku untuk secepatnya berdiri. Aku mengharap semoga hari-hariku yang terasa berjalan lamban ini, Besok akan berjalan 3x lebih cepat dari hari-harimu. Agar malam kelabu itu benar-benar kulupakan. Terimakasih.. Telah menjadikanku kuat. Air mata yang sudah terlalu banyak terbuang, kini mulai bisa kutahan. Terimakasih.. Telah menjadikanku kuat. Rasa sakit yang kontinyu menyapaku Kini mulai kurasakan sebagai hal yang biasa. Terimakasih.. Telah menjadikanku kuat. Meski dengan cara yang tidak terhormat. Terimakasih.. Telah menjadikanku kuat. … Sekarang lihatlah !! Aku sudah biasa. Aku sudah berlari lagi. Tak meringkik. Tak cengeng. Suatu hari nanti, bilakah kita masih bisa bertemu. Harus kau lihat betapa hebatnya aku tanpamu. Meski tidak sedikit, waktu yang kubutuhkan untuk menepikanmu. Harus kau lihat bagaimana aku bersusah payah membunuh perasaanku. Dan saat itu juga harus kau dengar. AKU HEBAT !! _____copas dian.novy37@gmail.com

untukmu yg selalu ku nanti

Artikel Islami 04 November 2011 - 14:52 Untukmu Yang Selalu Kunanti... Jika lelah yang kurasa sekarang, aku yakin kau juga merasakannya. Lelah menantimu. Lelah menanti janji Allah untuk segera mempertemukan kita dalam kesempatan untuk menggenapkan separoh dari agama ini. Lelah… dan teramat lelah….!!!! Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap menjaga hati dan iman ini. Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji Allah tiba. Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap pertanyaan.. “Kapan menikah…..?” Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan pula aku sedikit mengutip surat cinta dari Allah, sebagai kewajiban kita untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran… “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)” Huuf….!!!! Lega rasanya, bisa sedikit menyampaikan ini. Meski jika boleh sedikit jujur, kutulis petikan firman Allah itu hanya sekedar menghibur hatiku yang teramat lelah. Menghibur hatiku yang terkadang perih melihat kebahagiaan temanku atau bahkan yang usianya di bawahku telah mendapat izin Allah untuk melangsungkan pernikahan. Hatiku yang terkadang iri melihat temanku melahirkan anaknya dan terasa lengkap sudah dirinya diciptakan sebagai seorang perempuan. Yang telah berkesempatan untuk menjadi seorang ibu. Lelah…!!! Dan teramat lelah….!!!! Untuk sebuah penantian yang aku sendiri tidak tahu kapan berakhirnya. Selaksa doa yang terus terlantun seakan menjadi arang untuk mengobarkan asa. Sebuah harapan untuk segera menemui hari yang paling membahagiakan. Ya… Hari pernikahan. Hari dimana kita bisa menunpahkan segala rasa cinta yang ada dengan halal dan penuh ridha Allah. Sekilas, hatiku tersenyum kecil saat membayangkan hal itu. Tapi, senyum itu terpaksa harus ku tepis karena kenyataan saat ini masih jauh dengan sebuah harapan yang ada. Sebuah kenyataan ternyata kau belum ada di depanku. Belum datang untukku. Meski aku tahu, kau telah dipersiapkan Allah untukku. Aku tidak tahu kenapa sampai sekarang Allah belum mempertemukan aku denganmu. Padahal, doa dan usaha tak pernah berhenti menghiasi langkahku. Usaha untuk menyempurnakan ikhtiar dan doa untuk menggenapkan tawakal. Semuanya telah kulakukan. Yah… tapi kembali lagi mau tidak mau aku harus berkompromi dengan semua ketetapan Allah. Meski aku telah meminta dengan sepenuh harap, Allah tidak akan pernah memberikan apa yang aku inginkan. Tapi Allah hanya memberikan apa yang aku butuhkan. Meski berulang kali hati kecilku mengatakan bahwa aku telah siap untuk menikah, Tapi, hanya Allah yang jauh lebih tau tentang kesiapan diriku daripada diriku sendiri. Telah berulang kali datang di hatiku orang yang kusangka dia adalah dirimu. Mencoba memasuki hati dan mencoba mengambil tempat yang kuperuntukkan untukmu. Tapi, berulang kali juga mereka harus keluar dan mengaku kalah karena berbagai sebab. Dan sekarang, ternyata aku masih menunggumu. Menunggu kedatangan seseorang yang aku sendiri belum tahu siapa dirimu. Lelah… dan teramat letih…!!! Jika aku mengucapkan satu kata. “MENUNGGU” Penantian yang aku sendiri juga belum tahu kapan berakhirnya. Sedangkan di sekitarku, telah banyak pemandangan indah yang kulihat. Lelaki muda yang usianya di bawah umurku telah sempurna menjadi seorang ayah dengan buah hati mereka yang lucu-lucu. Kembali lagi hatiku harus menjerit dalam Tanya “Kapan tiba waktunya untukku…..?” Menjalani hidup sebagai seorang suami sebagai seorang kepala rumah tangga dan menjalani fitrah seorang lelaki sebagai seorang “ayah” bagi buah hatiku. Selaksa doa dalam sujud harap tak pernah lekang di tiap sepertiga malam terakhirku. Mencoba mengadu pada tiap doa yang terlantun. Mencoba mengiba dalam tiap tangis yang terus membasahi sajadah. Dan Mencoba bertanya dalam heningnya istikharah. “Dimana dia ya Allah….???? Seorang perempuan yang telah kau janjikan untukku. Seorang perempuan sebagai penyempurna agamaku, penjaga ketaatanku sekaligus penggenap langkah dakwahku….??????” Lelah… dan teramat letih…!!! Jika hati ini mencoba mengeja setiap rencana Allah. Tapi satu keyakinan yang akan terus membuatku tersenyum di tengah hati yang semakin lelah. Janji Allah mungkin tidak datang dengan “SEGERA”. Tapi akan selalu datang dengan “PASTI”. Seperti apa yang telah Allah janjikan dalam surat An-Nur : 26. Sekarang, aku memang tidak tahu siapa dirimu dan dimana keberadaanmu. Tapi aku yakin, kau akan dipertemukan Allah denganku saat masing-masing kita telah baik di mata Allah. Jika aku menginginkan kau seorang yang baik dimata Allah, maka izinkanlah aku untuk selalu memperbaiki diriku dengan kebaikan sesuai ketentuan Allah. Jika aku menginginkan kau memberikan cintamu hanya untukku, maka izinkan mulai sekarang aku menjaga hati dan cinta ini hanya untukmu. Jika sekarang aku menginginkanmu menjaga akhlak dan pandanganmu untukku, maka, izinkanlah mulai sekarang aku menjaga akhlak dan pandanganku hanya untukmu. Sehingga, ketika telah tiba waktunya bagi Allah untuk mempertemukan kita, indahnya cinta yang terbingkai dengan syurga pernikahan akan menjadi penggenap separoh dari agama ini. Jika aku boleh jujur, penantian panjang ini layaknya malam yang semakin gelap dan pekat. Hanya cahaya iman dan sabar yang akan menjadi penerang. Tapi aku yakin, malam yang semakin gelap dan pekat itu, tidak akan berlangsung selamanya. Karena semakin waktu berangkat jauh membawa gelapnya malam, semakin dekat pula waktu menuju pagi dengan sambutan mentari yang cerah. Ya… di saat pagi itulah Allah akan mempertemukan kita sesuai janji-Nya. Pagi yang cerah dengan sapaan mentari yang ramah. Bersama kidung cinta yang akan terus terlantun membawa nyanyian syurga yang Allah turunkan untuk kita. Gerbang pernikahan yang indah dengan hiasan bunga ridha dan restu dari Allah. Insya Allah ukhti… Waktu itu pasti akan datang bersama izin dari Allah. Entah kapan, aku sendiri juga belum tahu. Biarkan Allah yang merenda ini dengan indah. Antara harapan dan kenyataan, ada jarak dan waktu. Jarak itu bisa satu centimeter, bisa juga satu kilometer. Atau bahkan lebih. Waktu itu bisa satu hari atau bisa juga satu tahun. Atau bahkan lebih. Dan di dalam jarak dan waktu itulah, kita isi dengan kesabaran dan doa. Sabar bukan berarti diam. Sabar bukan berarti pasiv. Sabar bukan berarti hanya duduk menunggu. Tapi sabar adalah ekspresi usaha tanpa henti. Ayunan langkah kaki untuk terus berikhtiar meraih apa yang Allah janjikan. Jodoh memang mutlak kekuasaan Allah. Jodoh memang ada di tangan Allah. Tapi, kalau kita tidak berusaha menjemputnya, akan terus di tangan Allah. Tidak akan pernah sampai di tangan kita. Biarkan aku mencoba menjemputmu dengan memperbaiki diri. Biarkan aku menantimu dengan memperbaiki iman. Biarkan aku menunggumu dengan terus melangkahkan kaki semampuku dalam usaha dan ikhtiar. ukhti …. Di tengah lelahnya hati ini, izinkan aku tetap menunggu dengan iman yang tak pernah surut. Meski kadang godaan rasa putus asa terus menghinggap di hati. Aku hanya perlu menyandarkan cinta dan harapan pada Allah. Karena, menyandarkan harapan pada manusia hanya akan menemui kekecewaan. Biarkan penantian yang aku sendiri belum tahu kapan berakhirnya ini menjadi ladang ibadah yang disediakan Allah untukku. Dan orang-orang yang sedang menanti sepertiku. Terus perbaiki diri ukhti…. Aku masih setia menantimu. _____HN______

Minggu, 01 April 2012

AL-QUR'AN KU YG KESEPIAN.

al-qur'anku yg kesepian.... oleh M Hendra Nurdin Aku teringat saat aku terpikat padamu di took itu…. Hati ini tersihir olehmu… Tapi semenjak kau menjadi milikku tak pernah lagi ku jamak dank u sentuh kamu…… Bahkan aku tau kau merindukan belaian tanganku… Aku tau kau menangis dalam kegelapan aku tau kau meminta untuk di baca………… Dengan suara terindah yg aku miliki……… dengan kesucian yg mengikat jiwaku……… tapi saying hati ini masih membatu…….. jiwa kotor ini masih belum tergerak……… dan aku hanya bias berucap maafkan aku yg belum bias tergerak untuk mengeluarkanmu dari lemari yg gelap itU.

Jumat, 09 Maret 2012

secarik motivasi diri..

PENGIKUT AGAMA ALLAH jul 13, '09 9:23 pm untuk semuanya HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BARANGSIAPA DI ANTARA KAMU YANG MURTAD DARI AGAMANYA, MAKA KELAK ALLAH AKAN MENDATANGKAN SUATU KAUM YANG ALLAH MENCINTAI MEREKA DAN MEREKAPUN MENCINTAINYA, YANG BERSIKAP LEMAH LEMBUT TERHADAP ORANG YANG MUKMIN, YANG BERSIKAP KERAS TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR, YANG BERJIHAD DIJALAN ALLAH, DAN YANG TIDAK TAKUT KEPADA CELAAN ORANG YANG SUKA MENCELA. ITULAH KARUNIA ALLAH, DIBERIKAN-NYA KEPADA SIAPA YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH MAHA LUAS (PEMBERIAN-NYA), LAGI MAHA MENGETAHUI. SESUNGGUHNYA PENOLONG KAMU HANYALAH ALLAH, RASUL-NYA, DAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN, YANG MENDIRIKAN SHALAT DAN MENUNAIKAN ZAKAT, SERAYA MEREKA TUNDUK (KEPADA ALLAH). DAN BARANGSIAPA MENGAMBIL ALLAH, RASUL-NYA DAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN MENJADI PENOLONGNYA, MAKA SESUNGGUHNYA PENGIKUT (AGAMA) ALLAHITULAH YANG PASTI MENANG.(AL MAIDAH 54-56) Sudah menjadi lumrah bahwa pertarungan antara haq dan bathil (shiroo’ bainal haq wal bathil) selalu ada golongan yang berebut empati. Golongan tersebut adalah golongan pengikut agama Allah, dan golongan pengikut syaitan. Allah telah menjamin kemenangan di dunia dan keberuntungan di akhirat bagi pengikut agama Allah. Pengikut agama Allah bukahlah sebuah nama harokah, bukan klaim suatu golongan, bukan pula bendera, tetapi suatu golongan yang Allah ridho padanya. Seorang yang mengaku sebagai pengikut agama Allah atau hizbullah atau partainya Allah, harus memenuhi beberapa akhlaq dasar (Akhaaqul Asaasiyah) sebagai mana disebutkan dalam surat al Maidah ayat 54-56. BEBERAPA AKHLAQ DASAR YANG TERSEBUT ADALAH: 1. Mahabbatullah (Cinta Allah) Orang yang sudah terpaut cintanya kepada seseorang, maka dia akan melakukan dengan penuh kerelaan apa yang dimintanya. Bergitu pula seharusnya, seorang yang mencintai Allah, maka akan terefleksikan dalam ibadahnya kepada Allah, sehingga ia tekut, semangat, dan menjaga ibadahnya dengan baik. Tentulah apabila kita mencintai Allah, setiap permintaan kita yang baik untuk kita pasti Allah kabulkan. Pandangan hatinya adalah kebenaran (begitu kata aa gym dalam nasyidnya berjudul mata hati) karena di sana Allah berperan sebagai pemberi petunjuk, yang sanggup menembus hijab. Dan hanya orang yang berimanlah dia mencintai Allah. Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS 2:165) Orang yang mencintai kekasihnya maka hatinya agar bergetar bila disebut nama kekasihnya, maka bila seorang suami/istri disebut nama pasangannya tidak bergetar, perlu ditanya ulang kecintaannyaa. ;-D Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,(QS 8:2) 2. ADZILLATIN ‘ALAL MUKMININ (LEMAH LEMBUT TERHADAP MUKMININ) Sekarang sudah sering kita mengetahui, bahwa ada fenomena suatu jama’ah yang lebih suka bersifat keras terhadap mukmin/jama’ah islam yang lain. Dengan mudah mereka melabelkan kafir, mubtadi’ dsb. Sebagai pengikut agama Allah, tidaklah layak kita meniru akhlaq mereka. Dan apabila kita menerima celaan, fitnahan dari mereka, cukuplah kita memberi klarifikasi seperlunya tanpa perlu menyerang balik mereka. Karena orang yang melabelkan kekafiran, bila tidak terbukti ada pada dirinya, maka label kafir akan kembali kepada si pengucap tersebut, na’udzubillah. Satu kalimat saja yang kita ucapkan ternyata dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat! Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dia fikirkan (baik atau buruknya) pada kalimat itu. Kalimat itu menyebabkan dia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari timur dan barat?” [HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah]. “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya jika yang dituduh tidak seperti itu?.” [HR. Bukhari dari Abu Dzar]. Hendaklah setiap mukmin bertawadhu’ kepada saudaranya. Dalam tafsir ibnu katsir disebutkan bahwa sifat Rasulullah adalah menggelikan dan mematikan. Menggelikan adalah dapat membuat tertawa sahabatnya, mematikan adalah bila berperang dapat pula membunuh musuh-musuhnya. Rasulullah saw bersabada, “Bukan golongan kami, orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda.” Beliau juga melarangan mukmin menghunuskan pedang di hadapan sesama mukmin, meskipun hanya bermain-main. Begitu hati-hatinya Rasulullah saw memberi rambu-rambu dalam menyayangi sesama mukmin. 3. A’IZZATIN ‘ALAL KAFIRIN Kesempurnaan sifat kaum mukminin adalah selain bersikap lemah lembut terhadap mukminin juga bersifat tegas terhada kaum kafirin. Karena kebenaran tidak akan bertemu dan sejalan dengan kemungkaran. Tegas dalam artian bukan semena-mena. Tegas bahwa ini aqidah kita, tegas dalam menjalankan syariat, bukan dalam membunuh para kaum kafir dzimmy. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS 48:29) 4. JIHADU FII SABILILLAH WA ‘ADAMUL KHOUFU MINANNAAS (BERJIHAD DI JALAN ALLAH DAN TIDAK TAKUT PADA MANUSIA) Jihad berasal dari akar kata bahasa Arab ( Jahada ), berarti mengerahkan segenap potensi dengan ucapan dan tindakan. Di antara pecahan kata dari kata jihad adalah mujahadah (optimalisasi amal shalih), jahdun ( kerja keras) dan juhdun ( usaha ). Abdullah ibnu Abbas mengatakan: Jihad adalah mengoptimalkan potensi di jalan Allah dengan tanpa rasa takut sedikitpun dari cemoohan dan ejekan orang lain. Al-Muqatil berkata: Jihad adalah bekerja untuk Allah dengan sungguh-sungguh dan beribadah kepadaNya dengan sebenar-benarnya. Abdullah bin al-Mubarak berkata: Memerangi hawa nafsu termasuk jihad. DR. Said Ramadhan al-Buthi juga menjelaskan, bahwa berjihad adalah optimalisasi upaya dalam rangka meninggikan Kalimat Allah. Perang di Jalan Allah adalah bentuk jihad tertinggi untuk memenangkan agama Allah dan melaksanakan hukum-hukumNya secara total. Jihad dalam Islam menempati kedudukan yang sangat tinggi, sebagaimana penjelasan Nabi Muhammad saw, bahwa jihad adalah Dzarwatu Sinam al-Islam ( Puncak Ajaran Islam ). Dari Abi Hurairah r.a berkata: Dikatakan kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, amalan apa yang menyamai Jihad di jalan Allah ? Nabi berkata: Tidak ada. ( Nabi menjawab seperti itu setiap ditanya pertanyaan tersebut ) Kemudian beliau bersabda: Perumpamaan Mujahid di jalan Allah seperti orang yang berpuasa dan melakukan qiyam dengan melantunkan ayat-ayat Allah tanpa jenuh dan bosan, sampai mujahid tersebut pulang dari berjihad (HR. Bukhari Muslim). Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS 9:24) Seorang mukmin adalah seharusnya adalah mujahid, dia akan berani mengatakan kebenaran dan tidak urung mengatakan yang haq walaupun ditakut-takuti oleh orang lain. 5. AL WALA LILLAHI, LIRROSULIHI, LILMU’MINIIN. Termasuk ke dalam pokok Aqidah al Islamiyyah, bahwa seorang muslim wajib berpegang teguh dengan Aqidah ini, memberikan wala' (loyalitas) kecintaan kepada ahlinya dan memberikan sikap bara' (antipati) kebencian terhadap musuh-musuhnya. Sikap ini juga diajarkan dalam diennya Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (QS Al Maidah: 51). Dan Allah juga berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia." (QS Al Mumtahanah: 1). Bahkan Allah telah mengaharamkan kaum muslimin berloyalitas kepada orang-orang kafir walaupun mereka kerabat dekatnya. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudaramu pemimpin-pemimpinmu. Jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zholim." (QS At Taubah: 23). Maka Allah hanya mewajibkan memberikan loyalitas kepada ahlinya yaitu orang-orang mu'min. Allah berfirman, "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang." (QS Al Maidah: 55-56). KHOTIMAH Itulah karunia Allah yang diberikanNya kepada orang yang dikehendakiNya, yakni orang-orang yang mempunyai sifat ini. Karena Allah adalah Maha Luas KaruniaNya dan Maha Mengetahui siapa hamba-hambaNya yang berhak mendapatkannya. Semoga kita dikumpulkan bersama pengikut agama-agama Allah atau hizbullah. (Selasa, 14 Juli 2009 menjelang shubuh). TARBIYAH. by;copas

Rabu, 11 Januari 2012

khalid bin walid sang islam

Khalid Bin Walid, sang Pedang Islam Posted on Mei 24th, 2008 in Kisah by Adwan ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin? demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam. Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik. Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka\’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka?bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina. Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka?bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, “O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu”. Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya. Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur’an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu. Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam. Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit. Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu. Latihan Pertama Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya. Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi. Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat. Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang. Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran. Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya. Menentang Islam Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adab kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam. Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi. Peristiwa Uhud Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar. Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud. Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing. Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam. Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak. Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan. Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan. Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang. Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat. Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam. Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy. Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemaua-Nya. Sumber : Arrahmah

Sabtu, 07 Januari 2012

jihad pertarungan sepanjang masa tinggikan kalimat allah

Jihad: Pertarungan Sepanjang Masa Tinggikan Kalimat Allah Ta'ala Oleh : Abu Asybal Usamah وَ كَأَيّن مَِنْ نَبِي قََاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّو ن كَثِير فما وَهَنوا لِمَا أصَابَهُم في سبيل الله و ما ضعفوا و ما استكانوا و الله يحب الصابرين “Dan berapa banyak Nabi bersama kawanan setia berperang, mereka tidak sedih atas apa yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak pula lemah serta menyerah” (Qs Ali Imron 146). Pergolakan anatara yang haq dan yang bathil adalah sunnatullah Allah telah mengadakan sesuatu di dunia ini secara berpasangan. Ada yang saling melengkapi, membutuhkan, berlwanan dan bergesekan. Allah Ta’ala menciptakan pria dan wanita, malam dan siang, air dan api, panas dan dingin. Semuanya berpasanngan. Begitu juga dengan Al-Haq dan Al-Bathil. Kedua unsur ini saling bertolak belakang dan akan saling bergesekan sampai kapan pun. Para pengemban kedua pun senantiasa berada pada alur yang sama dengan apa yang diemban. Bertabrakan dan bergesekan. Karena kedua memiliki unsur asasi yang berbeda dan saling bertolak belakang ibarat kutub utara dan selatan. Jika salah satu bisa menyatu dengan lain, dapat dipastikan bahwa unsur dari keduanya telah luntur hingga bisa melebur. Syaithan adalah gembong dari pengemban panji kebathilan bersama pengikutnya, sedangkan para Rasul adalah pengemban panji Al haq berserta pengikutnya. Para Rasul ‘alaihimussalam diperinthakan untuk menegakkan kebenaran dimuka bumi ini dengan menyembah Allah semata, tunduk dibawah titah Nya seutuhnya. Sedangkan Syaithan berusaha merobohkan Al haq agar orang mempersekutan Allah ‘Azza wa jalla dengan segala bentuk dan cara. Allah Ta’ala berfirman : “Dan demikianlah kami jadikan musuh bagi setiap Nabi, dari kalangan jin dan manusia yang sebagian mereka membisikkan perkataan yang sia-sia ” (QS Al An’am 112) “Dari Saburah bin Abi Fakih berkata aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “seungguhnya syaithan menghalang-halangi jalan masuk Islam seraya berkata, kamu masuk Islam lalu meninggalkan agamamu dan agama bapak juga kakakemu, maka ia mengabaikannya dan masuk Islam, kemudian syaithan menghalang-halangi di jalan hijrah seraya berkata, kamu hijrah lalu meninggalkan kampungmu , perumpamaan hijrah seperti penunggang kuda sepanjang masa, lalu dia mengabaikanya dan berhijrah, kemudian ia menghalang-halangi di jalan jihad seraya berkata kamu melawan keinginan dan mengorbankan hartamu, kemudian kamu berperang lalu mati hingga istrimu dinikahi lagi dan hartamu dibagi-bagikan. Maka ia abaikan lalu berjihad. Rasulullah shollallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata , maka barangsiapa diantara kalian yang melakukan demikian kemudian ia mati atau terbunuh, tenggelam, jatuh dari kendaraan, maka Allah berkewajiban memasukannya ke surga” (HR Muslim). Beginilah jalan yang ditempuh para Rasul Pergesekan itu akan senantiasa didapati dalam berbagai bentuknya. Baik cara yang halus hingga cara yang ekstrem yaitu perang. Membela yang haq meninggikan kalimatullah. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia di jalan Allah” (HR Muslim) Namun sekarang meninggikan kalimat Allah, membela agama Allah adalah sesuatu yang tabu sehingga mereka menjahukan sensitifitas agama ini dari hati kaum mukminin. Sedangkan mereka yang menabuh genderang perang lalu mengangkat panji selain Dinullah maka itu bukan fisabilillah. Komunisme, nasionalisme, sosialisme dan paham-paham yang lain, mereka bersusah payah untuk menegakkannnya, bahkan sampai perang pun mereka lakukan agar bisa menegakkan prinsip mereka. Padahal itu adalah fi sabilisysyaithan karena bukan Lillahi Ta’ala. Hal semacam ini merupakan tabi’at dari Dinullah/Dinul haq yang bertentangan dengan bathil. “Biarkan (mereka berkata demikian), kami akan kuasakan yang Haq di atas bathil” (QS Al Anbiya’ 18) Maka ketika Rasulullah SAW mengalami kekalahan dan pukulan berat pada perang Uhud, para sahabat merasa sedih dan terpukul bahkan mereka menganggap bahwa tidak ada hari lagi setelah itu karena Rasulullah telah dikabarkan terbunuh. Pukulan yang berat. Tapi Allah memahamkan mereka tentang kaum sebelum mereka, yang berjuang bersama Nabi mereka. Melewati ujian yang berat, Meskipun Nabi mereka terbunuh namun perjuangan tetap berlanjut. Allah Ta’ala berfirman : “Dan berapa banyak Nabi bersama kawanan setia berperang, mereka tidak sedih atas apa yang menimpa mereka di jalan Allah (Nabi mereka terbunuh) dan tidak pula lemah serta menyerah” (QS Ali ‘Imron : 146) Jihad, pertarungan sepanjang masa meninggikan kalimat Allah Ayat di atas cukup memeberikan kita gambaran tentang jalan yang ditempuh para Nabi. Dan jalan itu terus akan dilewati oleh generasi yang teguh di atas prinsip para Rasul. Jalan berduri yang panjang menuju surga Allah. “apakah kalian mengira akan masuk surgasedangkan Allah belum tau siapa diantara kalian yang berjihad dan yang sabar” (QS Al i‘Imran 142) Semua akan terus berlangsung hingga panji kalimat Allah berkibar, Dinullah tegak dan Islam memimpin menyebarkan rahmat keseluruh alam. “Dan perangilah mereka di jalan Allah hingga tidak ada lagi fitnah (kekufuran dan kezaliman) dan din (kepatuhan) ini hanya untuk Allah ” (QS Al Anfal 39) Berapa banyak peperangan yang dilewati oleh Rasulullah SAW dan para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim untuk menegakkan kalimat Allah, namun mereka tetap tegar meskipun terkadang angin memiringkan ranting keimanan mereka. Karena mereka paham bahwa orang kafir tak akan henti-hentinya membuat makar untuk memerangi Islam. “Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah ridha hingga kalian mengikuti millah mereka” (Qs Al-Baqoroh 120). ...jika ada yang mengatakan bahwa yang Haq akan bersatu dengan bathil berarti dia telah mengingkari sunnatullah yang berlaku dalam kitabullah... Maka, jika ada yang mengatakan bahwa yang haq akan bersatu dengan bathil berarti dia telah mengingkari sunnatullah yang berlaku dalam kitabullah. Hal ini telah dijelaskan dalam riwayat dari Salamah bin Nufail Al Kindy, beliau berkata : ketika kami duduk disisi Rasulullah SAW tiba-tiba datang seorang kepada beliau lalu berkata : “Wahai Rasulallah, kuda perang telah ditambatkan, senjata telah ditaruh dan orang-orang mengira sudah tidak ada perang, perang telah usai” Rasulullah SAW menimpali : “mereka telah berdusta, sekarang lah waktu perang tiba, sesungguhnya akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang bereperang fi sabilillah , tidak membahayakan bagi mereka orang yang menyelisihi mereka, Allah membelokkan hati suatu kaum lalu memeberi rezki mereka (kelompok yang dijanjikan) dari kaum tersebut hingga datang hari kiamat. Dan perang tak akan usai hingga keluar Ya’juj dan Ma’juj (kiamat).” (HR An Nasa’i). Oleh karena itu, bagi seorang muslim hendaklah ia melihat jalan para Rasul dan pengikutnya, mengambil I’tibar dan melanjutkan perjuangan Rasulullah SAW dengan jihad fisabilillah. [voa-islam.com]